Nasional

Sultan Alam Bagagarsyah yang merupakan raja terakhir Pagaruyuang.

Published by Suara Lempanas on 01/11/13 | 07.16

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara, Ani Yudhoyono beserta rombongan berkunjung ke Istano Basa Pagaruyuang yang terletak di Nagari Pagaruyuang, Tanah Datar, Rabu (30/10).
Sedangkan peresmiannya oleh Presiden dilakukan dalam rangkaian Hari Pangan se-dunia, Kamis (31/10) di Padang. Berarti ini kunjungan kedua SBY ke Istano Basa Pagaruyuang.
Yang pertama, sewaktu beliau dianugerahi gelar sangsako adat oleh niniak mamak nagari Tanjuang Alam Tanah Datar yang dilanjutkan acara malewakan gala mangambang laweh marantang panjang di istano ini pada Jumat (22/9/2006).
Kepada SBY dianugerahi gelar Yang Dipatuan Maharajo Pamuncak Sari Alam dan ibu Ani Yudhoyono bergelar Puan Puti Ambun Suri. Beliau yang waktu itu memakai pakaian adat telah menjadi tokoh masyarakat Tanah Datar dan Minangkabau yang dibawa sailia samudiak untuk baiyo batido menyelesaikan berbagai masalah. Peristiwa itu sangat bersejarah dan menjadi catatan penting di Ranah Minangkabau.
Istano Basa Pagaruyuang awal mulanya dibangun pada 1976 atas prakarsa Gubernur Harun Zain sebagai proyek harga diri masyarakat Minangkabau.
Ada dua proyek waktu itu, satunya lagi pembangunan Museum Imam Bonjol dan Taman Khatulistiwa di Bonjol Pasaman. Peletakan batu pertama istano dilakukan Dirjen Kebudayaan Depdikbud, Prof. Ida Bagus Mantra pada (27/12/1976) dalam wujud museum terbuka (open air museum).
Konon, bangunan ini perpaduan antara bentuk istana yang dulu pernah ada dengan Istana Lama di Sri Menanti Negeri Sembilan Malaysia.
Dalam perjalanan waktu Istano Basa Pagaruyuang menjadi pusat pengembangan adat budaya serta pembelajaran sejarah Pagaruyuang dan Minangkabau. Bahkan juga telah menjadi ikon pariwisata Sumatera Barat karena inilah rumah adat Minangkabau yang paling besar dan unik.
Apalagi juga didukung oleh sejarah kerajaan Pagaruyuang, keberadaan Tanah Datar sebagau pusat dan tempat lahir adat Minangkabau serta julukan Batusangkar sebagai kota budaya yang memiliki ratusan situs dan benda budaya. Maka timbul pameo, belum lengkap ke Sumatera Barat apabila belum datang ke Istano Basa Pagaruyuang.
Tanpa diduga dalam usianya sekitar 30 tahun, tepatnya pada Selasa senja (27/2/2007) istano tersebut terbakar akibat disambar petir. Seluruh bangunan induk beserta sebagian besar isinya habis jadi puing, termasuk juga Rangkiang Patah Sambilan. Yang tersisa antara lain surau, rumah tabuah Simambang di Awan dan rumah tabuah Sigaga di Bumi.
Waktu itu, Indonesia menangisi hilangnya lambang pemersatu tersebut, termasuk juga sanak saudara di negeri Malaysia, Singapore dan Brunei Darussalam.
Bahkan Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla yang mendapat berita malam itu juga berduka serta langsung meminta agar istano dibangun kembali.
Kehilangan istano menjadi berita nasional dan internasional beberapa bulan lamanya, banyak yang datang berkunjung dan banyak pula yang memberi bantuan dana. Akhirnya, pada Minggu (08/07/2007) diadakan batagak tonggak tuo oleh Wapres Jusuf Kalla sebagai tanda dimulainya kembali pembangunan Istano Basa Pagaruyuang.
Tonggak tuo adalah tiang utama istano yang menurut sejarahnya dimintakan ke nagari tuo Pariangan. Tiang itu adalah dari batang Andaleh yang diberikan tampuak tangkai alam Minangkabau, Datuak Bandaro Kayo.
Tonggak tuo adalah satu-satunya tiang yang berdiri tegak lurus, sedang 71 tiang lainnya berdiri miring sebagai keunikan arsitektur rumah gadang.
Awalnya istano dibangun pada areal seluas 3,5 hektare yang kini terus dikembangkan luasnya. Di bagian belakang juga sudah ada beberapa bangunan tambahan seperti rumah adat Bodi Chaniago, rumah adat Koto Piliang, surau, kolam Pincuran Tujuah dan bumi perkemahan pramuka.
Bangunan istano memang unik dan setiap unsurnya punya filosofi yang penuh makna. Ada ukuran tertentu serta nama yang penuh arti, seperti ruang rajo babandiang, surambi papek dan gajah maharam.
Ada pula bandua tapi, bandua tangah, labuah gajah, biliak, anjuang tinggi, anjuang paranginan, anjuang pasagian, anjuang perak silangko gadiang, mahligai dan sebagainya. Ukirannya saja lebih dari 70 macam dan semuanya punya makna dan filosofinya.
Membangun istano tidaklah mudah, banyak ketentuan-ketentuan adat, ada persyaratan bahan dan dengan tekhnik yang tinggi oleh tukang tuo-nya. Maka wajar apabila bangunan ini cukup lama selesai disamping sulitnya mendapatkan bahan kayu yang berkualitas.
Pembuatan Istano Basa Pagaruyuang telah dibantu oleh banyak pihak hampir se-Indonesia sehingga wajar apabila istano ini juga dikatakan sebagai ikonnya Minangkabau pemersatu Nusantara.
Rangkiang Patah Sambilan dibantu khusus oleh keluarga dari Negeri Sembilan Malaysia. Panitianyapun yang dikomandoi oleh Wagub Sumbar dan Bupati Tanah Datar juga telah bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Gamawan Fauzi sewaktu menjadi Gubernur Sumbar pernah mengatakan, ada tiga titik di daerah ini, Padang untuk agama (alim ulama) dengan simbol Masjid Raya Sumatera Barat, Bukittinggi untuk ilmu (cadiak pandai) dengan simbol Perpustakaan Bung Hatta dan Batusangkar untuk adat (niniak mamak) dengan simbol Istano Basa Pagaruyuang.
Ke depan istano ini hendaknya benar-benar menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan adat budaya serta sejarah Minangkabau. Tentunya harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Istano adalah lambang pemersatu Nusantara dan ikonnya Minangkabau.
Banyak kegiatan adat dan budaya yang dapat dilaksanakan di istano ini. Di taman Tanjuang Mamutuih di bawah pohon beringin halaman samping Istano Basa Pagaruyuang juga ada prasasti tentang Raja Alam Minangkabau Sultan Alam Bagagarsyah yang merupakan raja terakhir Pagaruyuang.
Beliau ditawan dan dibuang Belanda ke Batavia pada 1833 dan meninggal pada 1849 di sana. Jasadnya kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mungkinkah beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional?
         ***  HT  ***


Berita Terkait

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

 
Copyright © 2013 - . Portal Media Online Sorot Nasional - All Rights Reserved